Hubungan remaja dan politik tak setegas jalinan emosi mereka dengan musik atau sport. Kehadiran media massa pun belum mampu menghangatkan hubungan keduanya. Namun dalam momen-momen tertentu kehadiran remaja dalam khasanah politik amat diperhitungkan, bahkan sering kali melebihi kapasitas peran yang mungkin dimainkan mereka.

Menjelang pemilihan umum (pemilu) atau pemilihan kepala daerah (pilkada) sosok remaja menjadi elemen penting kategori pemilih pemula. Dalam kehidupan politik pada umumnya, remaja dinisbatkan sebegai elemen generasi muda yang penting, tempat dimana nilai-nilai luhung dilekatkan. Persoalannya bagaimana pemahaman mereka tentang politik dibentuk ? Apakah mereka tentang memiliki kecakapan yang memadai untuk berpartisipasi secara politik ?

Kajian berikut di fokuskan kepada peran media massa dalam membentuk tanggapan kognitif remaja tentang sistem politik. Media massa dipilih sebagai kasus, mengingat fakta bahwa pendidikan politik ( bagi remaja) belum menjadi agenda penting para politisi, selain karena intensitas berita politik di media massa terus meningkat .

Di sisi lain, dimensi kognitif diyakini sebagai salah satu penentu tingkat partisipasi politik remaja karena fakta mengungkapkan tingkat partisipasi dan reaksi-reaksi individu terhadap sistem politik, untuk sebagian, ditentukan oleh tanggapan kognitifnya. Pengaruh kognisi terhadap tingkat parisipasi individu dalam sistem politiknya telah ter-identifikasi dalam studi-studi Sherman dan Kolker (1987). Telah di akui pula bahwa demokrasi bertumpu kepada pendidikan, tingkat pengetahuan warga dan tindakan yang bertanggung jawab atas dasar kaidah-kaidah umum (Kraus dan Davis, 1978).

Remaja diyakini tekah memiliki tingkat ketergantungan tertentu terhadap kandungan berita media massa. Berbagai suvei yang dilakukan SRI (Survei Riset Indonesia) Media Index mengungkapkan kebiasan kelompo0k pembaca berusia 15-19 tahun dalam memanfaatkan koran. Meski ketertarikan mereka terhadap berita politik tidak sebesar minat mereka terhadap entertainment atau sport, banyak hal yang menggoda mereka untuk mengkaji berita politik yang di usung koran dan majalah.

Untuk mendeteksi corak dan tingkat remaja yang terbentuk karena struktur kognisinya maka elemen sistem politik diandaikan terpisah, sehingga dipertanyakan bagaimana peranan berita politik dalam membentuk tanggapan kognitif remaja tentang funsi input, proses konversi, fungsi output, dan kapabilitas sistem politik indonesia.

Selain media massa, keterlibatan lingkungan dini (lingkungan pertama dimana remaja “menemukan dirinya”) diperhitungkan dalam kajian ini. Faktor ini dipertimbangkan karena budaya tutur diyakini masih kuat dibanding budaya baca.

Data dalam tulisan ini berasal dari survei terbatas terhadap siswa SMA di kota bandung menjelang pemilu 2004 silam. Angket disebarkan kepada responden yang di jaring dari populasi remaja di Kota Bandung. Penarikan sampel menggunakan teknik multi-stage cluster slamping karena adanyakesulitan dalam penyusunan kerangka slamping lengkap pada tahap awal penelitian .Berdasarkan teknik ini terjaring sebanyak 239 orang responden yang terbesar di delapan wilayah Kota Bandung

Media Massa Bukan Panasea

Berita politik yang disajikan media massa belum menjadi panasea (panacea: obat mujarab) atas rendahnya pemahaman remaja tentang mekanisme sistem politik. Karna itu, tidak cukup alasan untuk mengandalkan media massa sebagai agen sosialisai berbagai kebijakan publik yang ditunjukan bagi remaja.

Keberlakuan teori efek media terbatas teridentifikasi dalam penelitian ini. Media massa bukan satu satunya penyebab perubahan pada khalayak. Terpaan pesan media seringkali menjadi pemula komunikasi antarpesona, sehingga sulit mengharapkan lahirnya tindakan politik hanya dengan mengandalkan daya persuasi terpaan media massa.

Adanya perolehan pengetahuaan akibat terpaan berita politik media massa bukan saja telah memverifikasi ulang beberapa hasil penelitian yang telah mengungkapkan efek kognitif media massa, tetapi juga telah menguatkan dugaan keterlibatan media massa dalam pembangunan sistem politik.

Munculnya kecenderungan siaran berita televisi yang lebih digemari dibanding berita yang disiarkan radio atau surat kabar tidak menyiaratkan bahwa responden lebih mempercayai siaran berita televisi dalam menyajikan di banding dua media tadi. Kecenderungan ini lebih disebabkan oleh daya tarik televisi dalam menyajikan gambar secara lebih atraktif.

sumber :  Harsono Suwardi,1993/Pers dan Pemilu di Indonesia/Politik Terhadap Liputan Berita-berita Kampanye Pemilu 1987

Pabrik Tas di Indonesia

Konveksi Tas Idola Sebagai

Pengrajin Tas

Alamat Produsen Tas pembuat Tas

Seminar

Jl. Leuwipanjang – Leuwi Sari V no 59

Bandung

No Hp 081-221-248-03

Telepon 022 – 520 6738

www.tasidola.com / www.pabriktas.co.id

Email : info_dh@yahoo.com / info_tasidola@yahoo.com

MEDIA MASSA, KOGNISI DAN PARTISIPASI POLITIK REMAJA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*