23938 (FILEminimizer)

Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya”. (Al-Baqarah: 207)

Setiap orang ingin merasa bahagia. Hanya saja tidak semua orang tahu bagaimana cara meraih kebahagiaan. Ada yang berfikir bahwa bahagia bisa dirasakan ketika seseorang memiliki banyak harta. Dengan harta yang melimpah, kekuasaan mudah didapat, segala kebutuhan jasmani dan rohani bisa terpenuhi. Kebahagiaan bisa dibeli, begitu kira-kira. Pola pikir semacam ini ada benarnya, tapi tidak tepat. Tidak perlu jauh-jauh untuk membuktikannya, lihat saja ke sekeliling kita, atau bacalah berita di berbagai media massa. Jika harta yang dijadikan tujuan untuk bisa merasa bahagia, maka hasilnya bisa dilihat: korupsi di mana-mana, pencurian, perampokan, dan penipuan selalu terjadi berulang-ulang.

Sebagian lain menyangka bahwa kebahagiaan itu hanyalah fatamorgana, khayalan, dan ilusi manusia semata. Kenyataan hidup yang mereka alami tidak pernah membuktikan adanya kebahagiaan yang bertahan lama. Semua serba sesaat dan sementara belaka. Dugaan yang seperti ini kemudian melahirkan manusia-manusia yang mengejar pemuasan hawa nafsu. Ketika nafsu itu terpenuhi mereka merasa puas dan bahagia, meski hanya sesaat. Hasilnya dapat kita lihat: perzinaan, penggunaan narkoba, mabuk-mabukan, dan penyimpangan moral lainnya merebak di mana-mana.

Di sinilah cahaya Islam dibutuhkan untuk menerangi hidup manusia agar benar-benar bisa hidup damai, tentram, dan penuh dengan kebahagiaan. Salah satu cara agar kita bisa merasakan kebahagiaan yang hakiki adalah dengan ridha Allah. Kalau Allah ridha, maka kehidupan kita seluruhnya tidak lain hanyalah kebahagiaan, baik itu duniawi dan ukhrawi. Jalan untuk mencapai ridha Allah adalah dengan cara membuat diri kita sendiri ridha dengan semua ketentuan Allah. Ini tidak mudah, oleh karena itu butuh usaha keras dan pengorbanan sebagaimana yang telah disebutkan dalam kutipan ayat di awal tulisan ini.

Keutamaan Ridha Allah

Kata ridha berasal dari bahasa Arab ra-dhi-ya yang berarti: rela, senang, suka, perkenan, menerima dengan sepenuh hati, dan menyetujui secara penuh. Secara istilah, ridha dapat diartikan sebagai sikap suka dan lapang dada terhadap sesuatu. Kata ini bisa dikaitkan dengan Allah dan manusia. Jika dikaitkan dengan Allah, maka ridha Allah merupakan bentuk dukungan, rahmat, dan keberkahan terhadap sesuatu. Kalau dikaitkan dengan manusia, ridha berarti menerima segala hal yang terjadi pada dirinya. Kata padanannya (sinonim) adalah ikhlas dan lapang dada. Ridha inilah yang menjadi kunci bagi kebahagiaan hakiki yang dapat kita rasakan di dunia dan akhirat.

Keutamaan dari keridhaan Allah ini disebut-sebut dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya adalah menghasilkan keuntungan dua kali lipat (Al-Baqarah: 265), orang yang mengikuti keridhaan Allah tidak mendapat bencana, tapi malah mendapat nikmat serta karunia yang besar (Ali Imran: 174), pahala yang besar (An-Nisa: 114), ampunan dan pahala yang besar (Al-Fath: 29). Janji Allah berupa surga sebagai tempat kesudahan yang baik diperuntukkan bagi mereka yang mendapatkan ridhaNya. Bahkan bagi sebagian Muslim yang menempuh jalan penyucian diri (sufi), keutamaan-keutamaan dari keridhaan Allah bukanlah apa-apa dibanding dengan ridha Allah itu sendiri. Bagi para sufi, ridha Allah itulah yang dikejar dan mereka pun ridha atas apapun yang Allah berikan, baik itu berupa nikmat atau cobaan.

“Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya”, kalimat ini terdapat di dalam surat Al-Maidah: 119, At-Taubah: 100, Al-Mujadalah: 22, dan Al-Bayyinah: 8. Dalam tafsir Muyassar, kalimat itu berarti: Allah menerima semua amal shaleh hamba-hambaNya, dan mereka pun ridha dengan segala karunia yang Allah berikan kepada mereka. Keterangan serupa dalam tafsir Sa’di menyebut bahwa Allah menerima segala amalan yang diridhaiNya. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa tingkatan ridha Allah itu lebih tinggi dari nikmat yang Dia anugerahkan kepada hambaNya. Dengan kata lain, nikmat yang kita rasakan saat ini belum ada apa-apanya dibanding dengan ridha Allah kepada kita. Hal ini sebagaimana disebut dalam surat At-Taubah ayat 72, “Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”.

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: Bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman kepada penghuni surga: Hai penghuni surga! Mereka menjawab: Kami penuhi seruan-Mu wahai Tuhan kami, dan segala kebaikan ada di sisi-Mu. Allah melanjutkan: Apakah kalian sudah merasa puas? Mereka menjawab: Kami telah merasa puas wahai Tuhan kami, karena Engkau telah memberikan kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu. Allah bertanya lagi: Maukah kalian Aku berikan yang lebih baik lagi dari itu? Mereka menjawab: Wahai Tuhan kami, apa yang lebih baik dari itu? Allah menjawab: Akan Aku limpahkan keridaan-Ku atas kalian sehingga setelah itu Aku tidak akan murka kepada kalian untuk selamanya. (HR. Muslim)

Pabrik Tas di Indonesia

Konveksi Tas Idola Sebagai

Pengrajin Tas

Alamat Produsen Tas pembuat Tas

Seminar

Jl. Leuwipanjang – Leuwi Sari V no 59

Bandung

No Hp 081-221-248-03

Telepon 022 – 520 6738

www.tasidola.com / www.pabriktas.co.id

Email : info_dh@yahoo.com / info_tasidola@yahoo.com

Meraih Ridha Allah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*