Keputusan tuan rumah Asian Games IV tahun 1962 yang jatuh kepada Indonesia telah diketuk palu pada 1958. Mau tak mau, Soekarno, presiden pertama Indonesia, harus menjawab tuntutan pembangunan infrastruktur olahraga hanya dalam kurun waktu empat tahun!

Tak perlu berpikir lama, Soekarno menunjuk “Kampung Senayan” sebagai lokasi pembangunan megaproyek itu.

Di daerah perkampungan tersebut, ia ingin membangun sebuah stadion megah, yang kini bernama Stadion Utama Gelora Bung Karno; wisma-wisma atlet; dan sejumlah gelanggang olah raga lain di sekitarnya (Aneka, 1958).

“Ini akan menjadi stadion terbesar di dunia. Ini adalah awal bangsa kita menjadi bintang pedoman bangsa-bangsa di dunia, semua olahraga dari negara-negara di dunia berlomba di sini,” kata Soekarno, sambil menunjuk Senayan di peta Jakarta, di hadapan Menteri Perhubungan, Sukardan, dan Sekretaris Panitia Asian Games 1962, Maladi.

Soekarno, yang tengah membangun jati diri Indonesia, pun tak berhenti sampai di situ. Ia ingin negaranya dikenang semua orang, sehingga meminta pematung kenamaan, Sunarso, membuat patung selamat datang di Bundaran HI.

Patung dengan bentuk sepasang remaja melambaikan tangan itu menjadi gerbang kompleks olahraga mewah ini. Di kemudian hari, rencana Soekarno kian melebar.

Insinyur Teknik Sipil Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung) ini melebarkan pembangunan infrastruktur ke beberapa daerah, termasuk memperluas Bandara Kemayoran, yang menjadi pintu masuk kontingen Asia di Jakarta.

Tak hanya itu, Bundaran Semanggi dan Jalan Thamrin pun ia bangun untuk mempermegah muka Indonesia di kancah dunia. Rencana itu tentu menjadi perdebatan.

Ada yang setuju, ada juga yang bertanya-tanya: mengapa Soekarno mengorbankan biaya besar demi menunjang kegiatan olahraga? Namun, ia mampu menjawabnya dengan mudah.

Di matanya, olahraga merupakan salah satu alat perjuangan bangsa. Dengan berkiprah di dunia olah tubuh, Indonesia mampu berbicara pada dunia.

“Kita tunjukkan pada dunia bahwa Indonesia bangsa yang besar. Yang mampu maju ke muka, memimpin pembebasan bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya.”

Bikin Jepang Kagum

Di era 1960-an, bahkan hingga saat ini, Jepang menjadi negara Asia dengan kemajuan infrastruktur yang luar biasa.

Namun, proyek-proyek akbar Soekarno di Senayan berhasil bikin seorang utusan Jepang untuk persiapan Asian Games 1962 yang tak disebutkan namanya berdecak kagum.

“Ini bangsa gila, bisa menyelesaikan seluruh soal dalam hitungan bulan, dengan membangun stadion raksasa sekaligus pemindahan penduduk tanpa ribut-ribut,” katanya.

Wajar jika utusan Jepang itu terkagum-kagum. Soekarno dan kabinetnya, serta panitia penyelenggara Asian Games mampu merampungkan proyek itu dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun saja.

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pada 24 Agustus 1962, sekitar 100 ribu orang berkumpul di Stadion Senayan. Asian Games IV resmi dibuka dengan mendatangkan 18 negara dan mempertandingkan 13 cabang olahraga.

Kala itu, Indonesia diwakili 290 atlet terbaik. Hasilnya? Soekarno boleh berbangga karena Indonesia mampu menempati posisi ke-2, membuntuti bekas penjajah, yakni Jepang.
Indonesia berhasil mengumpulkan 77 medali dengan pembagian 21 emas, 26 perak, dan 30 perunggu.

Tanggal 4 September, sorak-sorai masyarakat Indonesia dan asing mengantar Sultan Hamengkubuwono IX menutup ajang bersejarah itu.

Sejak saat itu, Indonesia dikenal sebagai peradaban yang maju dan patut diperhitungkan. Impian sang proklamator pun tercapai: mengangkat martabat Indonesia di mata dunia.

Bagaimana? Apa masih ada yang mau berdebat soal olah raga sebagai alat perjuangan bangsa?

Timeline Sejarah Asian Games 1962:

  • 8 Februari 1960
    Soekarno menancapkan tiang pancang Stadion Utama sebagai simbol pembangunan awal Kompleks Olahraga Senayan.
  • Juni 1961
    Stadion Renang berkapasitas 8.000 penonton rampung dibangun.
  • 25 Desember 1961
    Stadion Tenis berkapasitas 5.200 penonton selesai dibangun.
  • Juni 1962
    Gedung Bola Basket berkapasitas 3.500 penonton selesai dibangun.
  • 21 Mei 1962
    Istana Olahraga berkapasitas 10.000 rampung dibangun.
  • Desember 1961
    Stadion Madya berkapasitas 20.000 penonton tuntas dibangun.
  • 21 Juli 1962
    Stadion Utama Senayan (Kini SU Gelora Bung Karno) berkapasitas 100.000 penonton kelar dibangun dan memecahkan rekor sebagai stadion terbesar di Asia Tenggara.
  • 24 Agustus 1962
    Asian Games 1962 digelar dan Televisi Republik Indonesia
    pertama kali mengudara.
  • 4 September 1962
    Asian Games ditutup oleh Sultan Hamengkubuwono IX.
sumber : https://juara.bolasport.com/read/sport/lainnya/168148-sejarah-asian-games-1962-bukti-olah-raga-sebagai-alat-perjuangan-bangsa

Pabrik Tas di Indonesia

Konveksi Tas Idola Sebagai

Pengrajin Tas

Alamat Produsen Tas pembuat Tas

Seminar

Jl. Leuwipanjang – Leuwi Sari V no 59

Bandung

No Hp 081-221-248-03

Telepon 022 – 520 6738

www.tasidola.com / www.pabriktas.co.id

Email : info_dh@yahoo.com / info_tasidola@yahoo.com

Sejarah Asian Games 1962

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*